Kasus gagal ginjal pada anak sempat menjadi perhatian besar di Indonesia pada tahun 2022. Saat itu, terjadi lonjakan kasus cedera ginjal akut (Acute Kidney Injury/AKI) pada anak-anak yang mengejutkan banyak pihak. Hingga 5 Februari 2023, lebih dari 300 kasus dilaporkan, dan sebagian besar di antaranya berakhir dengan kondisi yang sangat serius.
Hasil investigasi menemukan bahwa sebagian kasus berkaitan dengan paparan bahan kimia berbahaya, yaitu diethylene glycol (DEG) dan ethylene glycol (EG). Kedua zat ini sebenarnya biasa digunakan dalam produk industri, seperti cairan antibeku, dan tidak seharusnya terdapat dalam obat-obatan. Jika masuk ke dalam tubuh, zat tersebut dapat merusak organ vital, termasuk ginjal.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa kesehatan ginjal tidak hanya perlu diperhatikan pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak. Selama ini, banyak orang mengira gagal ginjal hanya terjadi pada usia lanjut. Padahal, pada kondisi tertentu, anak-anak juga dapat mengalami gangguan fungsi ginjal.
Yang perlu diwaspadai, kerusakan ginjal sering kali berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Beberapa tanda yang mungkin muncul antara lain berkurangnya jumlah urine, pembengkakan pada tubuh, kelelahan, hingga mual dan muntah. Karena gejalanya sering tidak spesifik, kondisi ini kerap terlambat terdeteksi.
Oleh karena itu, kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan ginjal sejak dini menjadi hal yang sangat penting. Orang tua juga perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi kesehatan anak dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila muncul gejala yang mencurigakan agar risiko gangguan ginjal pada anak dapat diminimalkan sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat.
1. Apa Itu Gagal Ginjal?
Gagal ginjal adalah kondisi ketika ginjal tidak mampu menjalankan fungsinya secara optimal dalam menyaring limbah metabolisme, menjaga keseimbangan cairan, serta mengatur elektrolit dalam tubuh. Ginjal berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh, termasuk:
- Menyaring limbah metabolisme dari darah
- Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit
- Mengontrol tekanan darah
- Menghasilkan hormon eritropoetin untuk m
Gangguan ginjal pada anak dapat terjadi dalam dua bentuk utama:
- Acute Kidney Injury (AKI)
AKI merupakan penurunan fungsi ginjal secara mendadak yang dapat terjadi dalam hitungan jam atau hari. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi, dehidrasi berat, paparan zat beracun, atau efek samping obat tertentu.
- Chronic Kidney Disease (CKD)
Penyakit ginjal kronis adalah kerusakan ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan dan dapat berkembang secara perlahan hingga menurunkan fungsi ginjal secara permanen.
2. Penyebab Gagal Ginjal
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal pada anak antara lain:
- Infeksi berat - Infeksi bakteri atau virus tertentu dapat memicu peradangan pada ginjal dan mengganggu fungsinya.
- Dehidrasi berat - Kekurangan cairan yang signifikan dapat mengurangi aliran darah ke ginjal sehingga memengaruhi fungsi penyaringan.
- Paparan zat beracun atau obat tertentu - Paparan bahan kimia berbahaya, seperti yang ditemukan dalam kasus AKI di Indonesia, dapat menyebabkan kerusakan ginjal akut.
- Kelainan bawaan pada ginjal - Beberapa anak dapat mengalami gangguan struktur atau fungsi ginjal sejak lahir.
- Penyakit metabolik atau autoimun - Kondisi tertentu dapat memicu kerusakan ginjal secara bertahap.
3. Gejala Gagal Ginjal pada Anak
Pada tahap awal, gangguan ginjal pada anak sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas. Namun, beberapa tanda berikut dapat menjadi indikasi yang perlu diwaspadai:
- Anak terlihat lebih mudah lelah atau lemas
- Pembengkakan pada wajah, tangan, atau kaki
- Perubahan frekuensi atau warna urin
- Nafsu makan menurun
- Mual atau muntah
- Tekanan darah meningkat
- Gangguan pertumbuhan
Karena gejalanya sering tidak spesifik, pemeriksaan laboratorium menjadi langkah penting dalam mendeteksi gangguan ginjal sejak dini.
4. Cara Mencegah Gagal Ginjal pada Anak
Upaya pencegahan sangat penting untuk menjaga kesehatan ginjal anak. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Memastikan anak mendapatkan asupan cairan yang cukup
- Menghindari penggunaan obat tanpa pengawasan tenaga medis
- Menjaga pola makan sehat dan seimbang
- Mengontrol penyakit yang berisiko merusak ginjal
- Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk pemeriksaan microalbumin, ACR, dan fungsi ginjal jika diperlukan.
5. Pentingnya Pemeriksaan Microalbumin dan Fungsi Ginjal
Deteksi dini kerusakan ginjal dapat dilakukan melalui beberapa pemeriksaan laboratorium, termasuk microalbumin, ACR, dan tes fungsi ginjal.
- Pemeriksaan Microalbumin (mALB)
Microalbumin (mALB) adalah sejumlah kecil protein albumin yang ditemukan dalam urin. Dalam kondisi normal, ginjal akan mencegah protein keluar melalui urin. Namun, jika ginjal mulai mengalami kerusakan, albumin dapat bocor ke dalam urin.
Manfaat pemeriksaan microalbumin antara lain:
-
- Mendeteksi kerusakan ginjal pada tahap awal
- Mengidentifikasi gangguan fungsi ginjal sebelum gejala muncul
- Membantu pemantauan kondisi pasien dengan risiko penyakit ginjal
- Pemeriksaan uCR (Urine Creatinine)
Urine Creatinine (uCR) merupakan pengukuran kadar kreatinin dalam urin. Kreatinin adalah produk limbah dari metabolisme otot yang biasanya dikeluarkan oleh ginjal melalui urin.
Pemeriksaan uCR memiliki beberapa fungsi penting, yaitu:
-
- Membantu menilai kemampuan ginjal dalam membuang limbah metabolisme
- Digunakan sebagai parameter pembanding dalam perhitungan ACR
- Membantu mengevaluasi konsentrasi urin sehingga hasil pemeriksaan protein urin menjadi lebih akurat
Pengukuran uCR sering digunakan bersama dengan pemeriksaan microalbumin untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi ginjal.
- Pemeriksaan ACR (Albumin-Creatinine Ratio)
ACR merupakan rasio antara albumin dan kreatinin dalam urin. Pemeriksaan ini membantu menilai tingkat kebocoran protein dari ginjal secara lebih akurat.
Fungsi pemeriksaan ACR:
-
- Mengidentifikasi kerusakan ginjal lebih dini
- Memantau perkembangan penyakit ginjal
- Membantu evaluasi kondisi ginjal secara lebih komprehensif
- Pemeriksaan Renal Function
Tes fungsi ginjal biasanya mencakup beberapa parameter penting seperti:
-
- Creatinine
- Urea/BUN
- Asam urat
Pemeriksaan ini membantu menilai kemampuan ginjal dalam menyaring limbah metabolisme dari darah.
Solusi Pemeriksaan Praktis: Sinocare iCARE-2100

Untuk mendukung deteksi dini gangguan ginjal secara praktis, tersedia perangkat Sinocare iCARE-2100 yang mampu melakukan berbagai pemeriksaan terkait kesehatan ginjal yang meliputi mALB, uCR, ACR, dan fungsi renal.
Beberapa keunggulan perangkat ini antara lain:
- Ukuran sampel yang digunakan sangat kecil, hanya 150 µL.
- Waktu pengukuran singkat, hanya 8 - 12 menit.
- Perangkat sepenuhnya bekerja secara otomatis.
- Dapat mengukur beberapa parameter dalam 1 kali pengujian
Dengan pemeriksaan yang lebih mudah diakses, tenaga kesehatan dapat melakukan pemantauan fungsi ginjal secara lebih efektif.
Kesimpulan
Gagal ginjal pada anak merupakan kondisi serius yang dapat berkembang secara cepat maupun perlahan. Kasus lonjakan Acute Kidney Injury (AKI) di Indonesia menjadi pengingat bahwa kesehatan ginjal anak perlu mendapatkan perhatian lebih.
Deteksi dini melalui pemeriksaan mALB, uCR, ACR, dan fungsi renal sangat penting untuk mengidentifikasi gangguan ginjal sejak tahap awal. Dengan dukungan teknologi diagnostik seperti Sinocare iCARE-2100, proses skrining dan pemantauan fungsi ginjal dapat dilakukan secara lebih praktis dan efisien di berbagai fasilitas kesehatan.
Upaya pencegahan, kesadaran orang tua, serta akses terhadap pemeriksaan yang tepat dapat membantu melindungi kesehatan ginjal anak dan mencegah komplikasi yang lebih serius di masa depan.
Referensi
- Levey AS, Coresh J. Chronic kidney disease. The Lancet. 2012;379(9811):165–180.
- Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO). Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney International Supplements. 2013.
- World Health Organization (WHO). Global Health Estimates: Kidney Diseases. 2022.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Penyakit Ginjal Kronik. 2022.
- Perazella MA. Drug-induced acute kidney injury. Clinical Journal of the American Society of Nephrology. 2018.
- Harambat J, et al. Epidemiology of chronic kidney disease in children. Pediatric Nephrology. 2012.