image article
07-October-2020
KADAR KETON TINGGI DALAM DARAH MENANDAKAN SESUATU YANG TIDAK BERES

Tubuh manusia membutuhkan glukosa. Glukosa adalah bahan bakar yang membuat otak bekerja dan otot manusia bergerak. Tetapi tanpa cukup insulin untuk mengangkut glukosa ke dalam sel, tubuh akan memecah lemak untuk bahan bakar, bukan glukosa, menyebabkan keton menumpuk dan bersirkulasi di aliran darah. Jika keton dalam jumlah besar menumpuk, keasaman darah meningkat, Anda menderita apa yang disebut ketoasidosis diabetik, atau disingkat DKA, masalah medis yang memerlukan penanganan segera.

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis dengan kejadian yang meningkat di seluruh dunia. DM adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia kronik akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya, yang menurunkan kerja insulin pada jaringan target, sehingga terjadi kelainan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Berdasarkan penyebabnya, DM dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu DM tipe-1, DM tipe-2, DM tipe lain, dan DM pada kehamilan atau kehamilan. Kebanyakan penderita diabetes pada anak-anak dan remaja adalah diabetes melitus tipe-1. Anak dengan DM tipe 1 menghadapi komplikasi jangka pendek seperti hipoglikemia dan diabetik ketoasidosis (KAD) yang keduanya memiliki risiko morbiditas dan mortalitas. Diabetes melitus (DM) tipe-1 merupakan penyakit kronis yang belum dapat disembuhkan, namun upaya pengendalian tingkat metabolisme dengan baik dan optimal dapat menjaga perkembangan dan pertumbuhan normal serta mencegah terjadinya komplikasi.

Menurut American Diabetes Association (ADA), penderita diabetes tipe 1 telah kehilangan kemampuan untuk memproduksi insulin, sehingga keton bisa terjadi saat dosis insulin terlewat, atau saat kebutuhan insulin tubuh meningkat akibat stres atau penyakit. Keton adalah produk sampingan dari metabolisme lemak, keton diproduksi ketika glukosa tidak tersedia untuk sel tubuh sebagai sumber energi atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber bahan bakar karena tidak ada insulin atau tidak cukup insulin. Lemak digunakan sebagai bahan bakar. Saat lemak dimetabolisme, produk sampingan yang disebut keton ini terbentuk dan ada di dalam darah.

Jika kadar keton dalam darah tinggi, artinya Anda yang menderita diabetes tipe 1 berisiko terkena ketoasidosis diabetikum. Ini bisa mengancam jiwa, jadi penting untuk menyadari kadar keton Anda. Kadar keton yang tinggi dalam darah Anda adalah tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres, Anda dapat mengetahui apakah Anda memiliki kadar keton yang tinggi dalam darah Anda dengan memeriksanya. Dokter Anda akan memberi Anda gambaran tentang apa kisaran target Anda dan apa yang harus dilakukan jika Anda melampaui itu, pemantauan kadar keton sangat penting ketika pasien diabetes tipe 1 sakit atau memiliki kadar glukosa tinggi secara konsisten. ADA merekomendasikan: Saat Anda sakit (saat Anda pilek atau flu misalnya), periksakan keton Anda setiap 4 hingga 6 jam. Dan periksa setiap 4 hingga 6 jam jika gula darah Anda lebih dari 240 mg / dl dan juga periksa keton jika mengalami gejala KAD.

 
Gejala Awal:
 
• Mulut kering dan rasa haus yang berlebihan
• Sering buang air kecil
• Glukosa darah tinggi
• Keton tingkat tinggi
 
Gejala lanjutan:
 
• Merasa lelah Mual, muntah, atau sakit perut• Sulit bernafas
 

Sumber Pustaka:

  1. Miranda Adelita, Karina Sugih Arto, Melda Deliana, Kontrol Metabolik pada Diabetes Melitus Tipe-CDK-284/ vol. 47 no. 3 th. 2020
  2. Pulungan AB, Annisa D, Imada S. Diabetes melitus tipe-1 pada anak: Situasi di Indonesia dan tatalaksana. Sari Pediatri. 2019;6:392-400.
  3. Darwish HM, Kharroubi AT. Diabetes Mellitus: The epidemic of the century. World J Diabetes. 2015;6:850-67.
  4. Mayer-Davis EJ, Kahkoska AR, Jefferies C, Dabelea D, Balde N, Gong CX, et al. ISPAD clinical practice consensus guidelines 2018: Definition, epidemiology, and classification of diabetes in children and adolescents. Pediatr Diabetes. 2018;19:7-19.
  5. Ridwan Z, Bahrun U, Pakasi RDN. Ketoacidosis diabetic di diabetes melitus tipe 1. Indones J Clin Pathol Med Laboratory. 2016;2:200-3.
  6. Tridjaya B, Yati NP, Faizi M, Marzuki AN, Moelyo AG, Soesanti F. Konsensus nasional pengelolaan diabetes melitus tipe 1. 3rd Ed. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2015. p. 1-96.
  7. Endyarni B, Batubara JRL, Boediman I. Effects of structured educational intervention on metabolic control of type-1 diabetes Mellitus patients. Pediatr Indones. 2006;46:260-5.
  8. Cooke DW, Platnick L. Type 1 diabetes melitus in pediatrics. Pediatr in Rev. 2008;28:347-85.
  9. Beck JK, Pharm, Cogen FR. Outpatient management of pediatric type 1 diabetes. J Pediatr Pharmacol. 2015;5:344-57.
  10. Rahmawati L, Soedjatmiko, Gunardi H, Sekartini R, Batubara JRL, Pulungan AB. Gangguan perilaku pasien diabetes melitus tipe-1 di poliklinik endokrinologi anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sari Pediatri 2007;4:264-9 https://labtestsonline.org/understanding/analytes/blood-ketones/tab/sample.
Tag
Gula
HbA1c
Asidosis Laktat
Lainnya
Bagikan