image article
05-April-2023
PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHAMILAN

Penyakit menular seksual, biasa disebut PMS, adalah infeksi yang disebarkan melalui hubungan seksual dengan seseorang yang menderita PMS. PMS adalah penyakit serius yang memerlukan pengobatan, terlepas dari apakah seseorang sedang hamil atau tidak. Namun saat seseorang hamil, bukan hanya dirinya yang berisiko; namun banyak PMS juga bisa sangat berbahaya bagi bayi.

 

Penyakit menular seksual (PMS) merupakan infeksi yang disebarkan melalui hubungan seks dengan seseorang yang menderita PMS. Seseorang bisa tertular PMS dari aktivitas seksual yang melibatkan mulut, anus, atau vagina. PMS meliputi:

  • Herpes
  • HIV/AIDS
  • Kutil kelamin (disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV))
  • Hepatitis B
  • Klamidia
  • Sifilis
  • Gonore
  • Trikomoniasis

PMS terkadang tidak menimbulkan gejala. Namun, ada beberapa gejala umum yang dapat ditemukan, diantaranya:

  • Benjolan, luka, atau kutil di dekat mulut, anus, penis, atau vagina
  • Bengkak atau kemerahan di dekat penis atau vagina
  • Ruam kulit dengan atau tanpa nyeri
  • Buang air kecil yang menyakitkan
  • Penurunan berat badan, buang air besar, keringat malam
  • Sakit, nyeri, demam, dan menggigil
  • Menguningnya kulit (jaundice)
  • Perdarahan dari vagina selain saat haid
  • Seks yang menyakitkan
  • Gatal parah di dekat penis atau vagina

 

Apakah Dampak PMS Bagi Kehamilan?

PMS pada kehamilan dapat membahayakan sang ibu dan bayinya, tergantung dari jenis infeksi yang terjadi.

HIV/AIDS: Walaupun penularan infeksi HIV pada bayi dapat dicegah, namun kasus menularnya HIV dari ibu ke bayi bisa terjadi.  Jika seseorang berencana untuk hamil, konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menurunkan risiko penyebaran penyakit dari ibu ke bayi.

Gonore: Jika tertular penyakit ini selama kehamilan, infeksi dapat menyebabkan keputihan, rasa terbakar saat kencing, atau sakit perut. Seorang wanita hamil dengan gonore yang tidak diobati mungkin meningkatkan risiko keguguran atau terjadinya kelahiran prematur. Bagi bayi yang lahir saat sang ibu mengidap infeksi gonore aktif, dapat mengalami kebutaan, infeksi sendi, atau infeksi darah yang mengancam jiwa.

HPV (Kutil Kelamin): Jika seseorang tertular kutil kelamin selama kehamilan, pengobatan mungkin akan ditunda sampai setelah melahirkan. Beberapa kutil kelamin tumbuh berdekatan menyerupai bentuk kembang kol yang dapat menyebabkan rasa terbakar atau gatal. Hormon dari kehamilan dapat membuat ukuran kutil ini tumbuh lebih besar, bahkan cukup besar untuk menghalangi jalan lahir. Jika hal ini terjadi maka bayi mungkin perlu dilahirkan melalui operasi caesar.

Klamidia: Klamidia dapat menyebabkan peningkatan risiko keguguran dan persalinan prematur. Bayi baru lahir yang terpapar bisa terkena infeksi mata yang parah dan pneumonia. Pastikan untuk melakukan tes ulang dalam waktu 3 bulan, untuk memastikan infeksinya hilang.

Hepatitis B: Jika wanita hamil terinfeksi hepatitis B, mereka dapat menularkan infeksi tersebut kepada bayinya melalui plasenta. Bayi baru lahir yang terinfeksi dapat menjadi pembawa hepatitis B seumur hidup yang menyebabkan penyakit hati dan bahkan kematian.

Sifilis: Sifilis mudah ditularkan kepada bayi yang belum lahir. Penyakit ini dapat menyebabkan infeksi yang sangat serius pada bayi yang bisa berakibat fatal dan biasanya terjadi kelahiran secara prematur. Bayi yang tidak diobati & bertahan hidup cenderung mengalami masalah pada banyak organ, termasuk otak, mata, telinga, jantung, kulit, gigi, dan tulang.

Untuk mendeteksi apakah sang ibu terkena penyakit sifilis atau tidak, dapat dilakukan suatu tes dengan menggunakan alat rapid tes sifilis sebagai uji pendahuluan. Salah satu contoh produk dari rapid tes sifilis adalah Accu-Tell® Rapid Syphilis Test (Whole Blood/Serum/Plasma).

Gambar 1. Accu-Tell® Rapid Syphilis Test (Whole Blood/Serum/Plasma)

 

 

Alat ini digunakan untuk mendeteksi secara kualitatif keberadaan antibodi (IgG dan IgM) terhadap Treponema Pallidum (TP) dalam darah utuh, serum atau plasma untuk membantu diagnosis Sifilis. Alat & bahan dalam 1 box sudah lengkap; berisi 25 buah kaset tes, 25 buah pipet kapiler plastik, 1 botol buffer dan 1 Insert Pack. Pengujian akan memberikan hasil dalam waktu 5 menit. Petunjuk lebih lengkap dapat dibaca pada lembar insert pack.

Hasil dapat disebut sebagai positif apabila terbentuk dua garis berwarna pada wilayah kontrol (C) dan wilayah uji (T). Intensitas warna akan bervariasi tergantung konsentrasi antibodi Treponema Pallidum dalam spesimen. Sekalipun terbentuk garis samar di wilayah uji (T), maka dapat dipertimbangkan sebagai hasil positif.

Skrining infeksi adalah langkah pertama dalam mengakses perawatan dan pengobatan yang diperlukan untuk mencegah penularan infeksi ke bayi dan untuk meningkatkan kesehatan ibu. Skrining prenatal untuk beberapa infeksi (HIV, sifilis, virus hepatitis B, dan virus hepatitis C) direkomendasikan untuk semua wanita hamil. Skrining untuk infeksi lain (klamidia, gonore, dan TB) direkomendasikan untuk beberapa wanita yang berisiko terkena infeksi karena wanita yang sedang hamil dapat terinfeksi PMS yang sama dengan wanita yang tidak hamil. Kondisi tubuh yang hamil tidak memberikan perlindungan tambahan terhadap PMS bagi ibu atau bayinya. Banyak PMS yang tidak memiliki gejala, sehingga orang tersebut mungkin tidak tahu sadar terinfeksi.

Penting untuk menyadari apa saja efek berbahaya yang dapat ditimbulkan oleh PMS dan bagaimana cara melindungi ibu dan bayi dari infeksi PMS.

 

 

Referensi:

  1. CDC. (2022). Pregnancy and HIV, Viral Hepatitis, STD & TB Prevention
  2. CDC. (2022). STDs during Pregnancy – CDC Basic Fact
  3. WebMD. (2021). Pregnancy and Sexually Transmitted Diseases
Tag
Syphilis
Bagikan
Artikel Terkait